Istanaindragiri.com – Kepahiang – Penyebar agama Islam di Bengkulu berasal dari berbagai tokoh ulama, seperti Imam Maulana Ichsad (abad ke-14, pelopor Tabut), Tengku Malim Muhidin (abad ke-15, dari Aceh, mengislamkan Ratu Agung), Sultan Muzaffar Syah (abad ke-17, Raja Indrapura), Syekh Muhammad Amin (abad ke-18/19, pembangun Masjid Al-Manar).

Selain itu, ulama-ulama lain yang datang melalui jalur kerajaan seperti Sungai Serut, Rejang, Sungai Lemau, dan Mukomuko, menyebarkan agama secara bertahap sejak abad ke-15 hingga abad ke-20.

Tokoh-tokoh Kunci:

Imam Maulana Ichsad (1336): Ulama keturunan Ali Zainal Abidin yang menjadi pelopor tradisi Tabut di Bengkulu.

Tengku Malim Muhidin (1417): Da’i dari Aceh yang berhasil mengislamkan Ratu Agung, penguasa Kerajaan Sungai Serut.

Sultan Muzaffar Syah (abad ke-17): Raja Indrapura yang menikahi Putri Serindang Bulan dari Kerajaan Lebong, membawa pengaruh Islam ke wilayah Rejang.

Syekh Muhammad Amin (abad ke-18/19): Tokoh penting di Bengkulu Selatan yang mendirikan Masjid Al-Manar dan berperan besar dalam dakwah di Manna.

Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari: Ulama besar dari Banjar yang pernah tinggal di Bengkulu, penyebar pembaruan Islam.

KH. Ahmad Dahlan: Pendiri Muhammadiyah, menyebarkan pembaruan Islam dan mendirikan cabang Muhammadiyah di Bengkulu (abad ke-20).

Syekh Abdullah Khari: Ulama di Mukomuko yang mengajarkan Al-Qur’an dan melawan penjajah Belanda (abad ke-20).

Jalur Masuknya Islam:

Kerajaan Sungai Serut: Melalui dakwah Tengku Malim Mukidim dari Aceh.

Kerajaan Rejang: Melalui pernikahan Sultan Muzaffar Syah (Palembang) dengan Putri Serindang Bulan.

Kerajaan Sungai Lemau: Melalui hubungan dengan Pagaruyung.

Kerajaan Selebar & Mukomuko: Melalui hubungan dengan Banten dan Indrapura.

Penyebaran Islam di Bengkulu berlangsung secara bertahap melalui para ulama dan interaksi antar kerajaan, dengan Islam diperkirakan masuk pada abad ke-15 atau ke-16, meskipun pengaruhnya menyebar luas di abad-abad berikutnya.

Untuk wisata religi

Situs Megalitikum Batu Lebar: Terletak di Desa Seguring, Kecamatan Curup Utara, situs ini diyakini sebagai tempat pertama kali masyarakat Rejang mendirikan salat dan belajar ajaran Islam, dengan batu besar yang digunakan sebagai penanda arah kiblat dan berdirinya padepokan pengajaran agama.

Makam Muning Macan: Makam ini berlokasi di Desa Temdak, Kecamatan Seberang Musi, Kabupaten Kepahiang, dan sering dikunjungi masyarakat setempat untuk membayar nazar.

Taman Makam Pahlawan Kepahiang: Meskipun bukan makam ulama tunggal, kompleks ini merupakan tempat penghormatan bagi para pahlawan di Desa Pagar Gunung, Kecamatan Kepahiang.

Kuburan panjang ini ada dua yaitu kuburan sepasang suami istri, sang suami
bernama Abu Hamid tapi masyarakat memanggilnya dengan sebutan Tuan
Magelang Alam dan istri bernama Mentri Sinaran Buih Kelaboi Metroi. Dahulu kala ada seseorang yang datang ke desa batu bandung tetapi tidak diketahui jelas asal-usulnya darimana kemudian dia diangkat oleh salah satu keluarga desa Batu Bandung sebagai anaknya, sudah lama ia diangkat sebagai anak oleh suatu keluarga maka pada suatu ketika Tuan Magelang Alam ini melakukan sesuatu hal yang membuat masyarakat murka, ia melakukan perbuatan yang tidak senonoh kepada
seorang wanita yang ia cintai ia berdua melakukan h

Kepahiang, makam keramat yang sering dikunjungi adalah Kuburan Panjang (Jihet Panyang) di Desa Batu Bandung, Kecamatan Muara Kemumu, tempat orang berdoa dan bernazar, serta makam Letkol Santoso dan makam tokoh lain seperti Salim Batu Bara, yang menjadi situs sejarah dan ziarah, meskipun ada juga potensi makam keramat leluhur yang belum banyak terekspos selain makam tokoh agama atau pahlawan terkenal.

Makam Keramat Terkenal di Kepahiang

Kuburan Panjang (Jihet Panyang): Terletak di Desa Batu Bandung, Kecamatan Muara Kemumu. Masyarakat percaya tempat ini keramat dan sering datang untuk berdoa, bernazar, atau melakukan ritual seperti menyirami kuburan, menyembelih kambing, atau membakar kemenyan.

Di Kelurahan Keban Agung, Kecamatan Bermani Ilir juga terdapat peninggalan purbakala. Situs prasejarah ini dinamai Situs Batu Keris. Lokasinya terletak di persawahan di dekat Sungai Langkap dan Sungai Kemanis. Di lokasi ini juga pernah ditemukan sebuah menhir yang terbuat dari batu andesit berwarna abu-abu.

Prasasti Tapak Kaki Si Jarang Pincang. Situs ini terletak di Desa Air Raman Kecamatan Bermani Ilir. Menurut warga setempat, situs ini belum pernah diteliti, sehingga misteri prasasti ini masih simpang siur dan menjadi misteri.

Makam Rio Mubarab: Makam Rio Mubarab merupakan salah satu makam keramat di Desa Kota Agung yang paling banyak didatangi oleh peziarah.

Raden Mas Panji : Kesaktian Raden Mas Panji dipercaya penduduk Desa Kota Agung. Raden Mas Panji berasal dari pulau jawa, yang datang dan menetap di desa tersebut.

Elang Rupas bukan makam ataupun tempat keramat, namun Elang Rupas dipercaya oleh penduduk Desa Kota Agung merupakan sosok jelmaan yang tidak diketahui namanya. Sosok tersebut menyerupai hewan Elang yang memiliki sayap dengan kondisi rusak sebelah.

Batu Betiang : Sebagai tempat keramat yang terdiri dari bebatuan yang berbentuk seperti meja besar lengkap dengan kursi nya dan disebut warga sebagai Batu Betiang.

Makam Gajah Mado Masih berlokasi di Desa Kota Agung makam Gajah Mado, juga menjadi salah satu tempat favorit bagi peziarah yang percaya akan kekuatan gaibnya.

Berlokasikan tak jauh dari pemukiman penduduk, Bukit Batu Bersanding yang terdiri dari hamparan bebatuan, memiliki cerita mistis akan asal usulnya. (Dikutip dari berbagai sumber ).